02 Februari 2014 | 08:54 wib

Oleh-oleh Kecil dari Musyawarah Majelis Syura XI

Hari Jumat – Sabtu tanggal 31 Januari dan 1 Februari 2014 kemarin, digelar Musyawarah Majelis Syura (MMS) XI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di MD Building Jakarta. Tentu saja ada banyak hal penting yang menjadi agenda pembahasannya, yang akan disosialisasikan hasilnya oleh para anggota Majelis Syura (MS) dari daerah pemilihan masing-masing.

Saya akan berbagi oleh-oleh ringan saat Ketua MS bercerita di forum MMS tentang kisah sepasang suami istri. Tentu ada banyak oleh-oleh lainnya, namun pertama kali saya akan sampaikan kisah ringan ini. Tentu saja ini bukan pembahasan dan bukan pula keputusan di forum MMS. Ini hanya cerita selingan saja. Untuk hasil resmi MMS XI akan disosialisasikan oleh pihak yang berwenang.

Kisah Penaklukan Hati Suami

Ustadz Hilmi Aminuddin bercerita di forum MMS tentang sepasang suami istri aktivis dakwah yang tinggal di wilayah Jakarta. Ustadz Hilmi menyampaikan bahwa beliau sering bertemu dengan keluarga ini.

Menurut saya, ini adalah kisah bagaimana seorang istri mampu ‘merebut’ hati suami, hingga akhirnya ia menempati posisi istimewa di hati suami.  Usianya sudah kepala empat. Hal yang sangat khas adalah, laki-laki paruh baya itu sangat senang bicara tentang poligami. Setiap bertemu teman-temannya, perbincangannya tidak jauh-jauh dari tema poligami. Ada saja bahan omongannya ketika sudah sampai ke tema poligami, dan ia tampak sangat semangat serta antusias setiap mengobrolkan poligami.

Istrinya hanya senyum-senyum kecil setiap kali mendengar suaminya bercerita tentang poligami di depan teman-temannya. Ia tidak pernah berkomentar. Tidak kelihatan respon emosi, marah atau tidak suka ketika suaminya bicara panjang lebar tentang poligami.

Suatu saat sang istri ditanya oleh ustadz Hilmi. “Setiap kali ketemu dengan kalian berdua, saya selalu mendengar suami kamu bercerita tentang poligami. Sepertinya ia sangat bersemangat bicara poligami. Namun yang saya heran, kamu hanya senyum-senyum saja mendengar suami kamu bicara poligami. Mengapa kamu tidak pernah berkomentar apapun soal poligami, dan hanya senyum-senyum saja?”

“Ustadz, suami saya itu dari dulu suka bicara soal poligami. Namun saya percaya, dia tidak akan melakukannya”, jawab sang istri dengan kalem. Tanpa beban, namun tampak yakin.

Pada kesempatan terpisah, ustadz Hilmi bertanya kepada sang suami. Ustadz menyampaikan komentar istri bahwa suaminya tidak akan poligami. Hanya senang ngobrol tentang poligami saja.

“Sebenarnya saya juga ingin melakukan poligami ustadz. Namun saya selalu tidak tega untuk melakukannya”, jawab suami.

“Mengapa tidak tega?” tanya ustadz Hilmi.

“Saya sering mendapatkan tugas mendadak dari DPP. Tiba-tiba harus berangkat ke berbagai kota di luar Jawa untuk tugas-tugas dakwah selama beberapa hari. Sering tidak sempat pulang ke rumah, dari kantor DPP langsung berangkat ke bandara....”

“Dalam situasai mendadak seperti ini, saya hanya telpon istri. Saya bilang tidak sempat pulang, karena agendanya mendadak. Bahkan sering ‘go show’ ke bandara tanpa persiapan yang memadai. Istri saya bilang : Jangan khawatir, nanti perbekalanmu sudah ada di bandara”.

“Saya menduga istri akan menyuruh anak-anak saya mengantar perbekalan saya ke bandara, karena anak pertama dan kedua saya sudah besar. Sudah bisa disuruh ke bandara. Namun yang membuat hati saya tersentuh, sesampai bandara ternyata istri saya sudah menunggu sambil membawakan koper berisi perlengkapan saya untuk perjalanan jauh itu....”

“Ia selalu mengurus semua keperluan saya. Ia selalu memahami kesibukan saya, dan sangat support terhadap berbagai kegiatan yang saya lakukan. Saya merasakan ketulusannya. Saya benar-benar tidak tega untuk menduakannya. Ia istri yang sangat setia”, ujarnya.

Demikian cerita ustadz Hilmi Aminuddin yang membuat suasana forum MMS menjadi segar dan hangat....

Menempati Posisi Istimewa di Hati Pasangan

Usai mendengar cerita ustadz Hilmi di forum MMS tersebut, saya segera membuat catatan ini. Sesungguhnyalah pernikahan akan menjadi langgeng apabila ada tautan hati yang kuat antara suami dan istri. Secara fisik, bisa saja suami dan istri kadang harus pisah karena ada tugas tertentu selama beberapa waktu. Namun keterpisahan fisik dalam waktu tertentu ini tidak akan menjadi masalah, sepanjang mereka berdua memiliki keterikatan hati yang sangat kuat satu dengan yang lain.

Ini menjadi salah satu kunci yang harus dipahami oleh suami dan istri. Karena kunci kebahagiaan keluarga adalah pada kekuatan tautan hati atara suami dan istri, maka usaha untuk “merebut” dan memasuki hati pasangan menjadi sangat penting maknanya. Keengganan dan kemalasan suami dan istri untuk berusaha menempati tempat istimewa di hati pasangan, membuat kurangnya usaha mereka berdua untuk melakukan sejumlah usaha untuk menguatkan ikatan hati mereka.

Terkadang, usaha untuk merebut dan memasuki tempat istimewa di hati pasagan, tidaklah dengan hal-hal besar dan hebat. Kadang-kadang, justru bermula dari hal sepele dan biasa saja, namun masuk menghujam ke dalam dasar hati pasangan. Maka jangan membayangkan harus melakukan berbagai tindakan yang sulit dan apalagi berbiaya mahal. Yang diperlukan adalah ketulusan hati, kemauan untuk mengeluarkan sedikit tenaga ekstra untuk membahagiakan pasangan.

Kisah di atas adalah salah satu contoh di antara sekian banyak contoh lainnya, tentang bagaimana merebut dan bahkan menaklukkan hati suami. Bukan dengan hal-hal yang sangat luar biasa, namun dari hal-hal sederhana dan biasa saja, namun dilakukan dengan penuh ketulusan jiwa.

Kisah tersebut menunjukkan betapa perbuatan kecil dan sederhana, bisa menyentuh dan meluruhkan hati suami. Yang dilakukan istri tadi adalah tindakan biasa saja, siapapun bisa melakukannya. Tapi apakah yang membuat hal yang biasa itu menjadi istimewa? Karena ketulusannya, karena kuatnya perasaan cinta, karena kuatnya keinginan untuk berbakti kepada suami. Tindakannya biasa, namun nilainya menjadi luar biasa.

Jika kita ke bandara, lihatlah betapa banyak orang berada di sana. Ada yang karena alasan bepergian dengan pesawat, sehingga datang ke bandara. Ada pula karena menjemput keluarga, menjemput teman atau saudara. Bandara dimana-mana selalu penuh sesak oleh manusia. Maksud saya, menjemput seseorang atau mengantar seseorang ke bandara, adalah hal yang biasa saja. Secara umum, hal itu bukan peristiwa istimewa.

Ternyata sentuhan ketulusan hati dari istri itu sangat mengena di hati suami. Masuk secara tepat ke bagian hati yang paling dalam. Maka hendaklah para suami dan para istri selalu berusaha untuk ‘merebut’ dan ‘menaklukkan’ hati pasangan. Tidak selalu dengan bunga, karena dalam tradisi sebagian besar masyarakat Indonesia, bunga bukanlah hadiah yang tepat untuk diberikan kepada istri. Banyak istri memilih hadiah kangkung dan bayam daripada seikat bunga segar.

Tentu saja tidak selalu dengan mengantar pasangan ke bandara, karena bisa jadi pasangan kita naik kereta api, jadi mestinya mengantarnya ke stasiun kereta :) Atau pasangan kita naik bis antarkota, sehingga mestinya kita atar ke terminal :)

Itu semua hanya hal teknis. Apapun bentuk perhatian dan kebersamaan dengan pasangan, yang paling utama adalah hendaklah menyediakan jiwa untuk selalu berusaha melakukannya. Berusaha untuk memasuki hati pasangan, berusaha untuk merebut hati pasangan, berusaha untuk menaklukkan hati pasangan, dengan hal-hal kecil yang memiliki makna yang besar karena dilandasi ketulusan.

Jika suami sudah menempati posisi istimewa di hati istri, dan istri sudah menempati posisi istimewa di hati suami, maka terbentuklah ikatan hati yang kuat di antara mereka berdua. Jika itu sudah dimiliki, insyaallah pernikahan mereka akan langgeng dan merasakan kebahagiaan sepanjang hidup mereka. 

( Cahyadi Takariawan )

Baca Lainnya:

Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id